Setiap lembaga pendidikan tentu memiliki keunggulan masing-masing. Begitu pula Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto yang memiliki tiga keunggulan, antara lain kitab kuning, bahasa, dan leadership. Sebagai salah satu perwujudan dari keunggulan di bidang kepemimpinan, Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto secara rutin menyelenggarakan Al-Amin Art Competition (AAC). Dalam pelaksanaannya, agenda ini diselenggarakan oleh Organisasi Santri Mahad Al-Amin (OSMA) putri sebagai wujud pembelajaran bagi santri putri mengenai kepemimpinan di sebuah organisasi. 
AAC merupakan ajang kompetisi seni tingkat SD/MI/TPQ se-Jawa Timur. Tahun ini, merupakan tahun kelima penyelenggaraan AAC. Program tahunan ini mengadakan berbagai lomba, meliputi kaligrafi, MTQ, deklamasi puisi, menggambar, PICKA (Pidato Cilik Al-Amin), dan baca tartil Al-Quran. Penyelenggaraan acara bergengsi ini melibatkan banyak pihak. Selain dari para santri, para asatidz dan alumni pun turut membantu kesuksesan acara ini. Tidak lupa pula dukungan dari beberapa sponsor pun turut membantu memeriahkan pagelaran AAC 2018 kali ini. 
Pada awalnya, tujuan penyelenggaraan AAC adalah untuk mengembangkan dan mengasah bakat generasi muda tingkat SD/MI/TPQ di bidang seni. Selain itu, acara ini juga diadakan untuk melatih dan mengasah kepemimpinan para santri di dalam sebuah organisasi. Dengan bimbingan dari pembina OSMA, para santri melakukan kinerja kepanitiaan AAC dari awal hingga akhir secara mandiri. 
Mengusung tema Pendidikan Seni Sebagai Aset Kultural di Tengah Arus Modernisasi, Maulidatun Nurainiyah, selaku ketua panitia AAC 2018, ingin mengingatkan kembali tentang pentingya pendidikan seni dan kebudayaan di zaman moderen. 
Zaman moderen semakin memudahkan penetrasi budaya asing ke kehidupan kita sebagai sebuah bangsa dan negara, ucapnya. 
Dalam hal ini, secara khusus Ustadz Saiful Huda, selaku kepala sekolah madrasah tsanawiyah, mengungkapkan pentingnya ajang kompetisi seperti AAC.
AAC itu kompetisi di bidang seni. Ia diadakan agar dapat memotivasi, dan mengasah bakat siswa-siswa SD/MI/TPQ di bidang seni melalui sebuah kompetisi, ucap beliau. 
Selain itu, Ustadz Saiful Huda pun mengapresiasi peningkatan besaran hadiah yang diberikan di tahun ini.
Jika tahun lalu total hadiah hanya 8 juta, tahun ini panitia bisa menyediakan 14 juta. Selain itu, juara 1 dan 2 pun mendapatkan hadiah tambahan berupa voucher umroh sebesar 10 juta rupiah. Sehingga tidak heran jika tahun ini lebih semarak, ucap beliau.
Tidak seperti tahun sebelumnya, pada AAC 2018 kali ini, berbagai permainan tradisional pun disediakan panitia untuk mengingatkan kearifan lokal yang kita miliki. Permainan-permainan itu pun ramai dimainkan para peserta lomba saat jeda menunggu pengumuman pemenang. Selain itu, tidak ketinggalan pula aneka stan bazar makanan dan yang dibuka oleh para santri. Para peserta yang haus atau lapar pun bisa langsung membeli di stan yang telah disediakan oleh para santri. 
Berkat mengikuti lomba ini, jadi bisa menambah pengalaman dan banyak teman, ucap Iqbal Kamarula Setiawan, salah satu peserta dalam lomba AAC 2018 kali ini. 
Selain itu, makanan dan minuman di bazar juga enak, lanjutnya. (Maya&lailatuz)

Facebook


Instagram

@alaminmojokerto